Berita

Temu Lapang Kedelai 2014

Manokwari – Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang konsumsinya tinggi di Indonesia. Ironisnya, sebagian kedelai yang beredar di pasaran merupakan kedelai impor. Untuk mengurangi impor kedelai tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kedelai lokal. BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) sebagai perpanjangan tangan Kementerian Pertanian di daerah berperan untuk memperkenalkan varietas-varietas unggul baru yang telah dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian kepada petani kedelai lokal.

Untuk mewujudkan peran tersebut, salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP adalah dengan mengadakan Temu Lapang Kedelai. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sidey Makmur (SP 11), Distrik Sidey, Manokwari pada tanggal 20 Mei 2014 yang lalu. Kegiatan Temu Lapang Kedelai tersebut dihadiri oleh petani kedelai lokal dan beberapa instansi terkait yaitu BPTP Papua Barat sebagai penyelenggara, Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari, Dinas TPH Provinsi Papua Barat, Bakorluh Provinsi Papua Barat, Bapeluh Kabupaten Manokwari, serta penyuluh-penyuluh dari kantor BPP setempat.

Dalam kegiatan tersebut, petani diperkenalkan kepada 4 (empat) varietas baru dari Badan Litbang Pertanian yaitu varietas Dering, Kaba, Wilis, dan Ijen. Varietas-varietas ini sementara masih dalam tahap uji adaptasi oleh BPTP di lahan petani kooperator di Sidey Makmur dimana kegiatan Temu Lapang Kedelai diselenggarakan. Penyelenggaraan temu lapang tersebut sengaja mengambil waktu dimana kedelai sudah siap panen. Dengan demikian, diharapkan petani dapat melihat secara langsung kondisi tanaman kedelai serta perkiraan hasil panennya. Pada lahan tempat uji adaptasi tersebut juga ditanam varietas Anjasmoro yang selama ini digunakan oleh petani lokal sebagai bahan pembanding secara langsung. Pada uji adaptasi tersebut juga diperkenalkan beberapa teknologi budidaya baru yaitu (1) jarak penanaman, (2) rekomendasi pupuk, serta (3) pengendalian gulma. Ketika petani kedelai diajak berkeliling untuk melihat kondisi tanaman, petani lokal tampak tertarik pada varietas Dering serta Kaba yang mereka rasa cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai alternatif selain varietas Anjasmoro.

Setelah melihat secara langsung display tanaman kedelai yang diuji adaptasi, dilakukan diskusi antara petani lokal dengan wakil dari dinas-dinas terkait. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa ada beberapa kendala dalam budidaya kedelai selama ini di Distrik Sidey. Masalah utama yaitu keterbatasan alat produksi, terutama power trasher serta bajak. Untuk lahan dengan luas 56 Ha, hanya ada satu power trasher dan dua bajak. Itupun sudah mulai rusak. Janji pemerintah daerah untuk memberikan tambahan sarana produksi sementara masih belum terlaksana. Kemudian masalah yang lainnya adalah mengenai berkurangnya lahan pertanian untuk kedelai karena terkikisnya tanah pertanian oleh aliran sungai. Jumlah tanah yang terkikis telah mencapai 15 Ha. Di samping itu masalah cuaca yang tidak menentu juga menjadi salah satu kendala para petani kedelai dalam menentukan masa tanam.

Dari masalah-masalah yang dikemukakan petani, para narasumber dari dinas terkait memberikan beberapa jawaban. Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kabupaten Manokwari yang diwakili oleh Bpk. Usman Jotho Prasetyo, SE mengatakan bahwa untuk keterbatasan lahan produksi, sementara ini Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari sedang mendata lahan yang dapat diajukan untuk pencetakan lahan pertanian baru. Dengan demikian, petani dapat mengusulkan tanah-tanah di Distrik Sidey yang tidak bermasalah untuk dapat diajukan menjadi tanah pertanian yang baru. Demikian juga dengan masalah keterbatasan sarana produksi.

Sebelum acara ditutup BPTP, Kepala BPTP Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, MS sedikit mensosialisasikan mengenai adanya KATAM (Kalender Tanam) yang sedang disusun oleh Kementerian Pertanian. Dengan adanya Kalender Tanam tersebut, diharapkan para petani dapat memanfaatkan datanya untuk menentukan hari penanaman padi dan kedelai yang optimal sehingga mengurangi resiko adanya gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Informasi yang disediakan dalam Kalender Tanam mencakup: (1) Estimasi waktu dan luas tanam padi dan kedelai, (2) Wilayah rawan banjir, kekeringan, dan yang terkena serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), (3) Rekomendasi varietas dan kebutuhan benih, (4) Rekomendasi Kebutuhan Pupuk, (5) Mekanisasi pertanian, (6) Info Tanam untuk level BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), serta (7) Kalender Tanam Rawa. Lebih lanjut lagi Kepala BPTP menegaskan, untuk mencapai produktivitas kedelai yang bagus, peran serta dan komunikasi yang baik oleh semua pihak sangat diharapkan. (MY)
 

Rapat Evaluasi Triwulan I 2014

Manokwari - Selasa, 8 April 2014 yang lalu, BPTP Papua Barat telah mengadakan rapat rutin evaluasi Triwulan I. Rapat ini diadakan di Ruang Rapat Umum Kantor BPTP dengan dihadiri oleh seluruh pegawai maupun tenaga kontrak yang ada di Manokwari. Agenda dalam rapat ini adalah untuk melihat sejauh mana perkembangan kegiatan serta evaluasi untuk masing-masing kegiatan. Tahun 2014 ini BPTP Papua Barat mempunyai 14 (empat belas) kegiatan yang dibagi dalam 5 (lima) kegiatan utama yaitu 1) Teknologi Spesifik Lokasi yang meliputi Zona Agro Ekologi (ZAE), Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari (MAP2RLL), Model Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian, dan Kajian Penerapan Inovasi Budidaya Kedelai; 2) Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Pertanian; 3) Teknologi yang Terdiseminasi Ke Pengguna yang terdiri dari kegiatan Diseminasi Inovasi Pertanian Melalui Media Elektronik dan Media Cetak serta kegiatan Bulan Bakti Agroinovasi; 4) Pendampingan Inovasi Pertanian yang mencakup kegiatan Pengawalan Inovasi Pola Tanam Terpadu (PTT), Pendampingan Kalender Tanam, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Berbasis Inovasi (MP3BI), dan Koordinasi Pendampingan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP); 5) Produksi Benih Padi Sumber.

Dari hasil rapat evaluasi diketahui bahwa ada beberapa kegiatan yang masih dalam tahap persiapan, namun ada juga yang sudah berjalan dengan baik. Yang masih dalam tahap persiapan adalah kegiatan ZAE yang masih menunggu koordinasi dengan Balai Besar Sumber Daya Lahan untuk yang mempunyai tenaga ahli dalam hal pembuatan peta lokasi Kabupaten Teluk Bintuni. Ada juga kegiatan MAP2RLL yang masih menunggu koordinasi dari pusat mengenai bentuk implementasi kegiatannya. Kegiatan Rekomendasi Kebijakan yang menitikberatkan pada analisis kebijakan peningkatan komoditas juga masih dalam tahap persiapan. Adapun kegiatan yang lain sejauh ini sudah terlaksana dengan baik, sejalan dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam proposal masing-masing kegiatan.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan antara lain kurang optimalnya pendampingan yang dilakukan oleh para LO (liaison officer) karena keterbatasan personil di BPTP serta luasnya wilayah yang harus ditangani. Hal ini terjadi terutama untuk kegiatan-kegiatan pendampingan yang wilayahnya mencakup seluruh Papua Barat seperti KRPL, dan PUAP. Pendampingan PTT dan Kalender Tanam juga mempunyai masalah yang sama karena harus mencakup 7 (tujuh) kabupaten penghasil padi. Untuk Pendampingan PUAP, komunikasi dengan para PMT (Penyelia Mitra Tani) juga menjadi kendala karena ada beberapa PMT yang sulit untuk dihubungi dan tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Kegiatan Produksi Benih Padi yang di Kabupaten Sorong juga masih terkendala ketersediaan air karena sawah di kabupaten Sorong merupakan sawah tadah hujan.

Dari hasil rapat evaluasi yang telah dilakukan, disepakati bahwa kegiatan-kegiatan yang masih dalam tahap persiapan harus segera digenjot pelaksanaanya dengan mempercepat koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar kegiatan dapat segera berjalan. Sementara untuk kegiatan-kegiatan yang lain untuk tetap dapat dilanjutkan dengan mengefektifkan waktu saat perjalanan ke lokasi, meningkatkan komunikasi dengan pihak terkait, mencatat semua data yang dapat dihimpun agar dapat dituangkan dalam bentuk tulisan hasil pengkajian yang representatif dan menyeluruh. (MY)
   

Papua Barat Menuju Provinsi Konservasi dan Keterkaitannya Dengan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan

 

Visi menjadikan provinsi Papua Barat Provinsi Konservasi dilatarbelakangi oleh potret daerah dengan luas 126.093 km2 atau lebih dari 12 juta hektar yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, beragam, dan ekosistem yang unik sehingga perlu dilestarikan. Spesies endemik yang terdapat di provinsi ini juga sangat khas dan spesifik. Apalagi masyarakat provinsi Papua Barat yang terdiri dari 12 suku besar pada dasarnya memiliki pandangan dan nilai hidup yang mendukung pada keberlanjutan sumber daya alam yang ada. Hampir 80 persen masyarakat Papua Barat secara turun temurun hidup dan tinggal di kawasan pedesaan yang masih menjadi bagian dari hutan. Oleh karena itu hubungan masyarakat adat Papua dengan sumber daya alam tidak semata dalam konteks ekonomi dan bahan pangan, tapi jauh dari itu terdapat hubungan sangat erat, harmonis dan spiritual antara kehidupan masyarakat adat dengan alam. Keberadaan sumber-sumber daya alam menjadi bagian bahkan menyatu secara budaya, religi dan cara pandang hidup (way of life) yang telah menjadi tradisi turun temurun.

Pada tanggal 12-16 Desember 2010, untuk ketiga kalinya, pemerintah dan sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta berbagai elemen masyarakat provinsi Papua Barat berkumpul untuk membahas dan mendorong agar provinsi Papua Barat menjadi Provinsi Konservasi. Gagasan bersama untuk menjadikan Papua Barat sebagai provinsi konservasi lahir, tumbuh dan berkembang dalam beberapa tahun terakhir yang ditandai oleh tiga pertemuan besar, yakni dalam bentuk sosialisasi gagasan, koordinasi antar instansi, dan berbagai elemen masyarakat terkait, maupun langkah awal dalam upaya penyusunan kebijakan yang tepat dan memadai untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Proses menjadikan provinsi Papua Barat sebagai provinsi konservasi mencakup tiga tahap besar yaitu: (1) Tahap Prakonservasi, (2) Tahap Penerbitan Peraturan Gubernur (PERGUB), dan (3)Penyusunan Cetak Biru Pengembangan Provinsi  Konservasi Papua Barat dan Pelaksanaan Koordinasi Pengembangan Kerjasama.

Pada tanggal 27 Mei 2013 yang lalu, pemerintah provinsi Papua Barat melalui Kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Universitas Negeri Papua dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional IPAM-IP melaksanakan lokakarya perencanaan pembangunan pertanian rendah emisi. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya memfasilitasi dan mengkatalisis proses mewujudkan Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi  dalam aspek pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian rendah emisi dalam prakteknya menitikberatkan pada kegiatan budidaya pertanian yang melakukan ekspansi secara vertikal dalam bentuk kegiatan-kegiatan intensifikasi dan secara bersamaan berusaha menekan ekspansi secara horizontal dalam bentuk pembukaan lahan baru (khususnya pembukaan tutupan hutan).

Praktek pertanian rendah emisi tersebut telah berhasil diimplementasikan di beberapa negara salah satunya Brazil dimana IPAM-IP berperan besar dalam membantu memfasilitasi pemerintah untuk menerapkan sistem pembangunan pertanian rendah emisi. Implementasi sistem pertanian rendah emisi di Brazil berhasil menekan laju deforestasi sampai 76% dan pada saat yang sama meningkatkan produksi budidaya kedelai dan peternakan sapi potong secara signifikan.

Dalam kesempatan lokakarya ini, berbagai stakeholder pembangunan pertanian di provinsi Papua Barat baik di lingkup pemerintah daerah Papua Barat maupun kantor-kantor daerah Kementerian Pertanian  yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat, Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Manokwari, dan Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, serta berbagai Lembaga Swadaya Masyarkat bidang lingkungan bersama-sama berdiskusi dalam rangka memperkuat koordinasi sekaligus menyumbangkan pemikiran-pemikiran untuk persiapan penyusunan cetak biru pengembangan provinsi konservasi khususnya yang menyangkut aspek pembangunan pertanian. Dalam kesempatan lokakarya ini juga dilaksanakan penandantangan nota kesepahaman antara Universitas Negeri Papua dan IPAM-IP.

Di lingkup Badan Litbang Pertanian, pembangunan pertanian rendah emisi yang lebih sering disebut dengan istilah n pertanian ramah lingkungan (PRL) juga merupakan isu yang sedang menghangat. PRL berdasarkan Green Economy adalah sistem pertanian yang mengelola seluruh sumberdaya pertanian (SDP) dan input SUT secara bijak untuk mencapai produktivitas yang optimum, namun beresiko rendah terhadap pelestarian SDP dan lingkungan, serta pemanasan global/perubahan iklim. Kepala BB Pengkajian, Dr. Agung Hendriadi, MEng, mengatakan bahwa pertanian ramah lingkungan membawa implikasi terhadap pemilihan komoditas, teknologi dan budidaya. Lebih lanjut, implikasi tersebut akan diarahkan pada pemenuhan food, feed, fuel and fiber yang juga berpengaruh terhadap strategi mencapai 4 target sukses Kementan.


 Badan Litbang Pertanian mengembangkan suatu model yang disebut Model Perencanaan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan (m-P3RL). Landasan m-P3RL adalah food security, food safety dan ramah lingkunga.  m-P3RL Badan Litbang Pertanian mencakup 9 unsur, antara lain: Peningkatan poduktivitas, Rendah emisi gas rumah kaca, Adaptif terhadap perubahan iklim, Penerapan pengendalian hama terpadu, Rendah cemaran logam berat, Zero waste, Pemanfaatan sumberdaya lokal, Terjaganya biodiversitas, dan Integrasi tanaman-ternak.

 

 

   

Temu Informasi Teknologi Pertanian Papua Barat

Kamis, 14 Juni 2012 diselenggarakan Temu Informasi Teknologi Pertanian Provinsi Papua Barat di Auditoruium Hotel Fujita-Manokwari. Temu Informasi diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari berbagai instansi yang terkait dengan penyuluhan pertanian lingkup Propinsi Papua Barat, kabupaten/kota, UNIPA, dan peneliti/penyuluh BPTP Papua Barat.
      Dalam kesempatan ini acara dibuka oleh Staf Tenaga Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan Provinsi Papua Barat (Ibu Bernarda Henan, SH) didampingi Kepala BPTP Papua Barat (Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, MS), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Papua Barat, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Tanaman Pangan Provinsi Papua Barat (Dr. Ir. Harry T. Uhi, M.Si). Dalam sambutannya ibu Bernarda Henan, SH Provinsi Papua Barat menyampaikan Pembangunan sektor Pertanian di Provinsi Papua Barat mempunyai peran strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal, peningkatan pendapatan petani, serta kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Dalam tataran operasionalnya peran BPTP Papua Barat sebagai unit kerja badan penelitian dan pengembangan pertanian di Provinsi Papua barat memegang peran penting dalam merakit dan mengembangkan teknologi pertanian spesifik lokasi yang dapat menjawab tantangan-tantangan yang muncul dari adanya berbagai masalah dalam mengoptimalkan percepatan pembangunan.
Upaya percepatan pembangunan pertanian seperti yang tertuang dalam tema kegiatan temu informasi ini, sejalan dengan program pembangunan di papua barat khususnya bidang pertanian. Beberapa program pembangunan pertanian yang dikemas dalam program pemberdayaan masyarakat menjadi focal point dalam pembangunan perdesaan. Pemberdayaan masyarakat kampung khususnya petani antara lain mencakup upaya perubahan perilaku atau sikap yang dapat dilakukan melalui pemberian motivasi. Sedangkan untuk menerapkan suatu inovasi yang dapat memperbaiki sistem usahatani, diperlukan informasi yang akan meningkatkan pengetahuan praktis dan keterampilan petani. Oleh karena itu upaya-upaya penyampaian informasi teknologi memiliki peran yang sangat penting. Oleh karena itu, kita semua harus terus mendukung mempercepat proses alih teknologi dan peningkatan adopsi oleh petani agar dapat meningkatnya Produktivitas usaha tani dan pendapatan Petani di Papua Barat sehingga produktivitas sektor pertanian semakin baik. Salah satu caranya yaitu dengan meningkatkan penerapan teknologi dalam kegiatan di sektor pertanian di Provinsi Papua Barat ini. (7ty)
   

Rapat Evaluasi Tahun 2011 dan Rencana Kegiatan TA. 2012

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat mengadakan rapat evaluasi triwulan pada Tahun 2011 dan rencana kegiatan T.A 2012. Pada hari kamis, 05 Januari 2012 di ruang auditorum BPTP Papua Barat. Rapat ini dipimpin oleh Kepala Balai Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, M.Si dan dihadiri oleh seluruh peneliti, penyuluh dan seluruh pegawai staf administrasi.
Dalam rapat ini, Kepala Balai memberikan laporan evaluasi Kinerja SDM dan Realisasi Keuangan pada Tahun 2011 bahwa jumlah pegawai kita yang dominan sedikit dibanding dengan BPTP lainnya namun Kegiatan yang berlangsung dan yang menempel dianggaran DIPA kita sama halnya dengan BPTP lainnya namun kulaitas kerja kita sama halnya dengan lainnya, walaupun SDM kita terbatas. Sehingga diharapkan agar para peneliti, penyuluh dan seluruh staf Administrasi dapat bekerja sesuai TUPOKSI yang telah disusun sebagai mestinya dan kinerja kerja kita semakin ditingkatkan. Selain itu Realisasi Keuangan kita mencapai 98% dari Jumlah Pagu Rp 3.605.473.000 dan dana Hibah luar negeri Rp. 241.143.000,- serta realisasi fisiknya mencapai 98%.
Pada Tahun 2012 adapun himbauan kepala Balai kepada penanggungjawab kegiatan bahwa kegiatan yang berjalan hendaknya dimanjemen dengan baik secara administrasi maupun lapangan sehingga realisasi kegiatan triwulan I disesuaikan dengan target output yang hendak dicapai yang tertuang dalam masing-masing RKTM dan RDHP.
Pada pertemuan ini juga ada kegiatan Laporan Perjalanan Dinas dari staf BPTP Papua Barat sendiri yaitu Muhammad Fathul Ulum dengan Judul Sosialisasi Manajemen Kalender Tanam Pertanian dan Tri Cahyo dengan Judul Implementasi Penginderaan Jauh dan GIS dalam membuat Peta Ketersediaan Lahan Pertanian Selanjutnya masing masing Penanggungjawab Kegiatan membahas perencanaan kerja pada tahun 2012 yang akan dilaksanakan baik secara teknis maupun keuangannya.
Kegiatan tahun 2012 masih merupakan lanjutan dari kegiatan Pendampingan program strategis kementerian pertanian (SL-PTT, M-P3MI, UPBS). Rapat ini titutup oleh Kepala Balai dengan harapan kepada peserta rapat agar senantiasa meningkatkan kinerja sehingga target realisasi output setiap kegiatan dapat tercapai sesuai dengan rencana.(7ty)
   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Highlight

banner2
banner1

Forum Litbang/Katalog Online

Kalender Kegiatan

Download