Berita

Dukungan Balitbangtan Kementan dalam acara Sail Raja Ampat melalui BPTP Papua Barat

      Raja Ampat, nama ini beberapa tahun terakhir makin santer terdengar sebagai surga wisata bahari baik di Indonesia maupun di mancanegara. Berpusat di Ibukota Kabupaten, Waisai, Raja Ampat berbenah menjadi cantik demi perhatian semua mata dan perubahan kehidupan. Ini dilakukan ketika pemerintah memilih kabupaten dengan ratusan gugusan pulau itu sebagai tempat melaksanakan kegiatan Sail Raja Ampat. Kegiatan ini memiliki tujuan utama memperkenalkan kebudayaan dan menumbuhkan perekonomian lokal dalam sektor pariwisata dan bahari, namun tidak menutup kemungkinan seluruh sektor ikut terlibat termasuk Pertanian.

     Kegiatan Sail Raja Ampat dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada hari sabtu 23 Agustus 2014 di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat Papua Barat. Walaupun diguyur hujan dan tiupan angin kencang, tidak menyurutkan niat pengunjung dan masyarakat untuk menghadiri dan memeriahkan acara tersebut. Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh pegawai BPTP Badan Litbang Kementrian Pertanian yang bertugas di kawasan wilayah percontohan KRPL di Raja Ampat.

     Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPTP) melaksanakan kegiatan berupa dukungan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kawasan Rumah Pintar (Kofarkor) Raja Ampat, Raja Ampat. Dukungan Balitbangtan diacara Sail Raja Ampat bertujuan untuk memperkenalkan program KRPL dari Kementrian Pertanian yang berlokasi sebagian besar wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat dan seluruh Indonesia pada umumnya.

     Program KRPL yang telah dilaksanakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kementrian Pertanian sejak akhir tahun 2011 ini, bertujuan untuk memanfaatkan lahan pekarangan sekitar rumah warga sebagai lahan pertanian demi mendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Sedangkan maksud dari dibuatnya model KRPL di kawasan Rumah Pintar agar pengunjung (kususnya anak-anak usia sekolah) lebih mengenal pertanian dan menyukai kegiatan bercocok tanam walaupun hanya dimulai dari lahan yang paling dekat yaitu di pekarangan rumah mereka. Tujuan lainnya adalah agar pengunjung, yang kebanyakan anak-anak dapat mengenal sejak dini dan belajar tentang pertanian dan mencintai lingkungan tempat tinggalnya. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala KSPP BPTP Papua Barat, Nicolays Jambang, S.Tp., M.Sc kepada Bapak Presiden saat menyempatkan berkunjung ke kawasan Rumah Pintar dan melihat-lihat model KRPL Badan Litbang Pertanian. Dilanjutkannya, metode memperkenalkan pertanian kepada anak akan lebih efektif saat anak diajak belajar sambil bermain, juga dengan memperkenalkan pertanian kepada anak-anak melalui media buku bacaan anak-anak berbentuk komik/buku bergambar yang telah disiapkan oleh Badan Litbang Pertanian di perpustakaan Rumah Pintar.

     Selain memberikan edukasi dan pengetahuan kepada masyarakat, Badan Litbang Pertanian juga memberikan bantuan kepada 20 Kepala Keluarga berupa tanaman hortikultura diatantaranya berupa tanaman tomat, cabe, sawi, bayam dan lain-lain. Diharapkan dengan adanya dukungan ini, warga sekitaran Raja Ampat dapat memenuhi kebutuhan sayur dan buah untuk keluarga dan rumah tangganya sendiri sehingga kesejahtreraan dan kesehatan warga meningkat. (AYK)  
 

Open House BPTP Papua Barat Menyambut HUT Badan Litbang Pertanian ke-40

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Papua Barat merupakan bagian dari Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian yang salah satunya berada di Papua Barat menyelenggarakan Open House yang bertema “Agroinovasi Kreativitas Tiada Henti Untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Petani” pada hari Senin tanggal 12 Agustus 2014 di Aula BPTP Papua Barat. Kegiatan Open house antara lain menampilkan kegiatan Pengkajian dan Diseminasi serta beberapa komoditas pertanian unggulan yang digunakan dalam implementasi berbagai Program Utama Badan Litbang yang dilaksanakan di wilayah Provinsi Papua Barat. Beberapa kegiatan utama dari BPTP PB yang ditampilkan adalah kegiatan-kegiatan pendampingan (MP3MI, KRPL, SLPTT, PUAP), Kegiatan Diseminasi (Peningkatan Komunikasi Inovasi Teknologi /Penyuluh) dan Kegiatan Unit Pengelolaan Benih Sumber. Semua kegiatan dirancang menjadi 3 area display yaitu (1) kunjungan Outdoor berupa gelar teknologi VUB Padi, gelar teknologi VUB Jagung, gelar teknologi VUB Kedelai,Model Pemanfaatan Pekarangan dalam KRPL dan Pelatihan Sambung Samping Kakao. (2) Kegiatan Ekspose berupa Ekspose Katam Terpadu dan ekspose Pemupukkan Berimbang. (3) Kunjungan Indoor berupa Pemutaran Film/Video, Unit Perpustakaan dan Perpustakaan Digital serta Laboratorium Diseminasi.

Open House BPTP PB dibuka resmi oleh Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua Barat yang diwakili oleh Ir. Alimuddin dan dihadiri oleh sekitar 100 orang Peserta yang terdiri dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Manokwari, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, Dinas Perkebunan, Badan Koordinasi dan Penyuluhan, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, Balai Benih Induk, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih TPH, BPP Distrik Prafi, BPP Distik Masni, BPP Distrik Sidey, BPP Distrik Oransbari, BPP Distrik Warmare dan berbagai Kelompok Tani.

Dalam sambutan untuk membuka acara Open House, Kepala Balai antara lain menyampaikan bahwa selama 40 tahun keberadaan Badan Litbang Pertanian, berbagai inovasi telah dihasilkan dan aplikasi berbagai inovasi itu telah menjadi pendorong kegiatan pembangunan pertanian di Indoesia. Inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian dirancang untuk bisa menjadi terobosan untuk meningkatkan kualitas maupun produktivitas usaha pertanian serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi petani di lahan. Inovasi-inovasi Badan Litbang Pertanian juga selalu dirancang dalam kerangka pembangunan pertanian yang bersifat spesifik lokasi yang tetap mempertimbangkan seluruh potensi sumberdaya pertanian daerah.Oleh karena itu lewat acara Open House, diharapkan berbagai stakeholder pertanian yang hadir bisa lebih dekat lagi mengenal Badan Litbang Pertanian untuk terus meningkatkan kolaborasi kerja dalam rangka semakin meningkatkan kualitas pelayanan pembangunan pertanian. Selanjutnya, kepala BPTP juga menekankan pentingnya sinergi antara peneliti, penyuluh, dan petani dalam pembangunan pertanian sebab ketiga pelaku pertanian tersebut digambarkan sebagai tiga roda penggerak utama dalam pembangunan pertanian. (7ty)  


   

Konsolidasi Laporan Keuangan Wilayah Semester I Tahun 2014

Manokwari - Pada Tahun 2014 ini, Kementerian Pertanian telah mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas Laporan Keuangan Kementerian untuk Tahun 2013. Opini ini dicapai setelah 5 tahun terakhir Kementerian Pertanian berjuang untuk meningkatkan opininya dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menuju ke Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian untuk mendapatkan opini WTP tersebut adalah dengan dibentuknya Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah (UAPPA/B-W) atas dasar Permentan No. 41/Permentan/OT.140/9/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang – Wilayah (UAPPA/B-W) dimana melalui Permentan tersebut, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di seluruh provinsi di Indonesia ditunjuk menjadi Sekretariat UAPPA/B-W yang bertugas menyusun laporan keuangan tingkat provinsi yang mencakup seluruh satker penerima dana DIPA dari Kementerian Pertanian di provinsi tersebut.

Satker-satker Kementerian Pertanian yang memperoleh dana DIPA berjenis kewenangan Dekonsentrasi (DK) dan Tugas Pembantuan (TP) setiap tahunnya berubah. Tahun ini, satker penerima dana DIPA Kementerian Pertanian di Provinsi Papua Barat berjumlah 40 satker, yang terdiri dari 4 satker Kantor Daerah (KD), 12 satker DK, dan 24 satker TP.

Untuk mempertahankan Laporan Keuangan Kementerian yang tetap akuntabel, pada tanggal 21 – 23 Juli 2014 BPTP Papua Barat mengadakan acara Konsolidasi Laporan Keuangan Tingkat Wilayah Semester I TA 2014 di Fujita Papua Hotel, Jl. Drs. Esau Sesa, Manokwari. Yang menjadi peserta dalam kegiatan ini adalah para operator Sistem Akuntansi Instansi (SAI) satker-satker penerima dana DIPA Kementerian Pertanian Tahun 2014. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Sekretariat UAPPA/B-W Papua Barat, yaitu Kepala BPTP Papua Barat, Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, MS. Dalam sambutannya, Kepala Sekretariat mengucapkan terima kasih atas kerjasama dan kerja keras seluruh operator SAI yang dengan tertib menyerahkan data SAI yang diminta maupun menyusun Laporan Keuangan Tingkat Satker. Tanpa semua hal tersebut, tidaklah mungkin Kementerian Pertanian mampu mencapai Opini WTP atas Laporan Keuangannya. Beliau juga meminta agar ke depannya prestasi ini dapat kita pertahankan, bahkan harus kita tingkatkan agar Laporan Keuangan yang notabene menjadi tolok ukur kinerja suatu lembaga pemerintahan dapat menjadi lebih baik.

Sebagaimana kegiatan Konsolidasi Laporan Keuangan Wilayah di waktu-waktu sebelumnya, BPTP juga turut mengundang Kantor Pelayananan Kekayaaan Negara dan Lelang (KPKNL) Sorong sebagai narasumber sekaligus sebagai petugas rekonsiliasi laporan SIMAK-BMN (Sistem Akuntansi Barang Milik Negara) bagi satker yang belum sempat melakukan rekonsiliasi data SIMAK-BMN. Rekonsiliasi ini wajib dilakukan setiap semester. Namun pada prakteknya masih cukup banyak satker yang belum tertib dan rutin dalam melakukan rekonsiliasi ini karena keterbatasan anggaran untuk melakukan perjalanan, mengingat KPKNL untuk wilayah Provinsi Papua Barat hanya berada di Sorong. Dengan diundangnya KPKNL, satker yang belum melakukan rekonsiliasi dapat langsung merekonsiliasikan datanya di tempat kegiatan. Di samping itu, bagi satker yang mempunyai masalah tentang aplikasi Persediaan, aplikasi SIMAKBMN, maupun masalah tentang aset di satkernya, dapat langsung berkonsultasi dengan tim dari KPKNL.

Acara ditutup oleh Ir. Alimuddin, koordinator UAPPA/B-W di BPTP Papua Barat. Dalam laporannya, Ir. Alimuddin menyampaikan bahwa tahun ini adalah tahun terakhir diadakannya kegiatan Konsolidasi Laporan Keuangan Wilayah Semester I. Untuk tahun-tahun yang akan datang, konsolidasi hanya akan difokuskan di Semester II setiap tahunnya. Pada kegiatan ini ada 4 satker yang tidak hadir yaitu satker Dinas Pertanian Kabupaten Fakfak, Dinas Pertanian Kabupaten Teluk Wondama, Badan Koordinasi Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat, serta Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak. (MYK)  
   

Temu Lapang Kedelai 2014

Manokwari – Kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang konsumsinya tinggi di Indonesia. Ironisnya, sebagian kedelai yang beredar di pasaran merupakan kedelai impor. Untuk mengurangi impor kedelai tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kedelai lokal. BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) sebagai perpanjangan tangan Kementerian Pertanian di daerah berperan untuk memperkenalkan varietas-varietas unggul baru yang telah dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian kepada petani kedelai lokal.

Untuk mewujudkan peran tersebut, salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP adalah dengan mengadakan Temu Lapang Kedelai. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sidey Makmur (SP 11), Distrik Sidey, Manokwari pada tanggal 20 Mei 2014 yang lalu. Kegiatan Temu Lapang Kedelai tersebut dihadiri oleh petani kedelai lokal dan beberapa instansi terkait yaitu BPTP Papua Barat sebagai penyelenggara, Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari, Dinas TPH Provinsi Papua Barat, Bakorluh Provinsi Papua Barat, Bapeluh Kabupaten Manokwari, serta penyuluh-penyuluh dari kantor BPP setempat.

Dalam kegiatan tersebut, petani diperkenalkan kepada 4 (empat) varietas baru dari Badan Litbang Pertanian yaitu varietas Dering, Kaba, Wilis, dan Ijen. Varietas-varietas ini sementara masih dalam tahap uji adaptasi oleh BPTP di lahan petani kooperator di Sidey Makmur dimana kegiatan Temu Lapang Kedelai diselenggarakan. Penyelenggaraan temu lapang tersebut sengaja mengambil waktu dimana kedelai sudah siap panen. Dengan demikian, diharapkan petani dapat melihat secara langsung kondisi tanaman kedelai serta perkiraan hasil panennya. Pada lahan tempat uji adaptasi tersebut juga ditanam varietas Anjasmoro yang selama ini digunakan oleh petani lokal sebagai bahan pembanding secara langsung. Pada uji adaptasi tersebut juga diperkenalkan beberapa teknologi budidaya baru yaitu (1) jarak penanaman, (2) rekomendasi pupuk, serta (3) pengendalian gulma. Ketika petani kedelai diajak berkeliling untuk melihat kondisi tanaman, petani lokal tampak tertarik pada varietas Dering serta Kaba yang mereka rasa cukup menjanjikan untuk digunakan sebagai alternatif selain varietas Anjasmoro.

Setelah melihat secara langsung display tanaman kedelai yang diuji adaptasi, dilakukan diskusi antara petani lokal dengan wakil dari dinas-dinas terkait. Dari diskusi tersebut diketahui bahwa ada beberapa kendala dalam budidaya kedelai selama ini di Distrik Sidey. Masalah utama yaitu keterbatasan alat produksi, terutama power trasher serta bajak. Untuk lahan dengan luas 56 Ha, hanya ada satu power trasher dan dua bajak. Itupun sudah mulai rusak. Janji pemerintah daerah untuk memberikan tambahan sarana produksi sementara masih belum terlaksana. Kemudian masalah yang lainnya adalah mengenai berkurangnya lahan pertanian untuk kedelai karena terkikisnya tanah pertanian oleh aliran sungai. Jumlah tanah yang terkikis telah mencapai 15 Ha. Di samping itu masalah cuaca yang tidak menentu juga menjadi salah satu kendala para petani kedelai dalam menentukan masa tanam.

Dari masalah-masalah yang dikemukakan petani, para narasumber dari dinas terkait memberikan beberapa jawaban. Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kabupaten Manokwari yang diwakili oleh Bpk. Usman Jotho Prasetyo, SE mengatakan bahwa untuk keterbatasan lahan produksi, sementara ini Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari sedang mendata lahan yang dapat diajukan untuk pencetakan lahan pertanian baru. Dengan demikian, petani dapat mengusulkan tanah-tanah di Distrik Sidey yang tidak bermasalah untuk dapat diajukan menjadi tanah pertanian yang baru. Demikian juga dengan masalah keterbatasan sarana produksi.

Sebelum acara ditutup BPTP, Kepala BPTP Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, MS sedikit mensosialisasikan mengenai adanya KATAM (Kalender Tanam) yang sedang disusun oleh Kementerian Pertanian. Dengan adanya Kalender Tanam tersebut, diharapkan para petani dapat memanfaatkan datanya untuk menentukan hari penanaman padi dan kedelai yang optimal sehingga mengurangi resiko adanya gagal panen karena cuaca yang tidak menentu. Informasi yang disediakan dalam Kalender Tanam mencakup: (1) Estimasi waktu dan luas tanam padi dan kedelai, (2) Wilayah rawan banjir, kekeringan, dan yang terkena serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), (3) Rekomendasi varietas dan kebutuhan benih, (4) Rekomendasi Kebutuhan Pupuk, (5) Mekanisasi pertanian, (6) Info Tanam untuk level BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), serta (7) Kalender Tanam Rawa. Lebih lanjut lagi Kepala BPTP menegaskan, untuk mencapai produktivitas kedelai yang bagus, peran serta dan komunikasi yang baik oleh semua pihak sangat diharapkan. (MY)
   

Rapat Evaluasi Triwulan I 2014

Manokwari - Selasa, 8 April 2014 yang lalu, BPTP Papua Barat telah mengadakan rapat rutin evaluasi Triwulan I. Rapat ini diadakan di Ruang Rapat Umum Kantor BPTP dengan dihadiri oleh seluruh pegawai maupun tenaga kontrak yang ada di Manokwari. Agenda dalam rapat ini adalah untuk melihat sejauh mana perkembangan kegiatan serta evaluasi untuk masing-masing kegiatan. Tahun 2014 ini BPTP Papua Barat mempunyai 14 (empat belas) kegiatan yang dibagi dalam 5 (lima) kegiatan utama yaitu 1) Teknologi Spesifik Lokasi yang meliputi Zona Agro Ekologi (ZAE), Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan Lestari (MAP2RLL), Model Laboratorium Lapang Inovasi Pertanian, dan Kajian Penerapan Inovasi Budidaya Kedelai; 2) Rekomendasi Kebijakan Pembangunan Pertanian; 3) Teknologi yang Terdiseminasi Ke Pengguna yang terdiri dari kegiatan Diseminasi Inovasi Pertanian Melalui Media Elektronik dan Media Cetak serta kegiatan Bulan Bakti Agroinovasi; 4) Pendampingan Inovasi Pertanian yang mencakup kegiatan Pengawalan Inovasi Pola Tanam Terpadu (PTT), Pendampingan Kalender Tanam, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Berbasis Inovasi (MP3BI), dan Koordinasi Pendampingan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP); 5) Produksi Benih Padi Sumber.

Dari hasil rapat evaluasi diketahui bahwa ada beberapa kegiatan yang masih dalam tahap persiapan, namun ada juga yang sudah berjalan dengan baik. Yang masih dalam tahap persiapan adalah kegiatan ZAE yang masih menunggu koordinasi dengan Balai Besar Sumber Daya Lahan untuk yang mempunyai tenaga ahli dalam hal pembuatan peta lokasi Kabupaten Teluk Bintuni. Ada juga kegiatan MAP2RLL yang masih menunggu koordinasi dari pusat mengenai bentuk implementasi kegiatannya. Kegiatan Rekomendasi Kebijakan yang menitikberatkan pada analisis kebijakan peningkatan komoditas juga masih dalam tahap persiapan. Adapun kegiatan yang lain sejauh ini sudah terlaksana dengan baik, sejalan dengan jadwal yang telah ditetapkan dalam proposal masing-masing kegiatan.

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan antara lain kurang optimalnya pendampingan yang dilakukan oleh para LO (liaison officer) karena keterbatasan personil di BPTP serta luasnya wilayah yang harus ditangani. Hal ini terjadi terutama untuk kegiatan-kegiatan pendampingan yang wilayahnya mencakup seluruh Papua Barat seperti KRPL, dan PUAP. Pendampingan PTT dan Kalender Tanam juga mempunyai masalah yang sama karena harus mencakup 7 (tujuh) kabupaten penghasil padi. Untuk Pendampingan PUAP, komunikasi dengan para PMT (Penyelia Mitra Tani) juga menjadi kendala karena ada beberapa PMT yang sulit untuk dihubungi dan tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Kegiatan Produksi Benih Padi yang di Kabupaten Sorong juga masih terkendala ketersediaan air karena sawah di kabupaten Sorong merupakan sawah tadah hujan.

Dari hasil rapat evaluasi yang telah dilakukan, disepakati bahwa kegiatan-kegiatan yang masih dalam tahap persiapan harus segera digenjot pelaksanaanya dengan mempercepat koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar kegiatan dapat segera berjalan. Sementara untuk kegiatan-kegiatan yang lain untuk tetap dapat dilanjutkan dengan mengefektifkan waktu saat perjalanan ke lokasi, meningkatkan komunikasi dengan pihak terkait, mencatat semua data yang dapat dihimpun agar dapat dituangkan dalam bentuk tulisan hasil pengkajian yang representatif dan menyeluruh. (MY)
   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Highlight

banner1
banner2

Forum Litbang/Katalog Online

Kalender Kegiatan

Download